Santriwati Diniyyah Putri Lampung Didorong Kuasai AI untuk UMKM
By Admin

Madani bersama santriwati
nusakini.com, Ratusan peserta didik di Pesantren Diniyyah Putri Lampung didorong untuk memaksimalkan penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan sehari-hari. Dorongan strategis ini disampaikan oleh praktisi vokasi Ahmad Madani pada kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren, Rabu, 19 Agustus 2026.
Madani menekankan bahwa para siswi tidak boleh sekadar menjadi pemakai teknologi pasif di era digital. Mereka diharapkan mampu berinovasi untuk menciptakan solusi konkret bagi berbagai tantangan nyata di masyarakat sekitar.
"Teknologi adalah alat, nilai adalah sistem operasinya," ujar Ahmad Madani di hadapan para santriwati. Menurutnya, pemahaman mendasar ini sangat penting agar kecerdasan buatan selalu dikendalikan oleh etika sosial manusia.
Sebagai contoh penerapan, santriwati dapat memanfaatkan keahlian digital guna merancang strategi promosi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Praktik lapangan ini dinilai jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar menggunakan teknologi untuk mengerjakan tugas sekolah semata.
Penguasaan sistem pintar ini juga tidak mengharuskan setiap individu berprofesi sebagai ahli komputer profesional. AI justru difungsikan sebagai pendukung utama guna mengakselerasi produktivitas pada bidang kesehatan, mode, maupun pendidikan.
Dalam paparannya, Madani turut memperkenalkan istilah "Jihad Digital" sebagai wujud perjuangan terkini melawan penyebaran informasi palsu. Semangat kebaruan ini ditujukan agar para peserta didik mampu meredam budaya konsumtif akibat paparan layar gawai berlebih.
Para peserta juga diajak mengubah kebiasaan menatap media sosial dari sekadar mencari hiburan menjadi sarana pembelajaran aktif. Langkah pembinaan ini dinilai sangat efektif untuk mencetak generasi mandiri yang mampu memecahkan masalah.
Dalam konteks dunia pesantren modern, adopsi teknologi mutakhir dinilai sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai tradisional Islam. Para pelajar wanita tersebut dipastikan tetap bisa menghafal Al-Qur'an sembari memperdalam ilmu pemasaran berbasis internet.
Sinergi antara kedalaman ilmu agama dan literasi teknologi ini dianggap sebagai fondasi esensial bagi kepemimpinan masa depan. Hal tersebut sejalan dengan tuntutan zaman yang membutuhkan figur berakar kuat pada nilai moral namun berwawasan lintas global.
"Jadilah santriwati yang berilmu, berkarya, dan membawa manfaat bagi sesama," seru Madani menutup sesi pemaparan. Transformasi pola pikir ini diharapkan segera melahirkan tokoh-tokoh perempuan yang berkontribusi nyata bagi kemajuan peradaban. (*)